Bagian I — Warisan dari Nir

Bab 6 — Kotak Kayu

Sampel gratis · ZTRATAX Buku I

Ibu Excel duduk di kursi kayu dekat jendela, tubuhnya terbungkus selimut tipis yang sudah dicuci terlalu sering. Wajahnya pucat, tetapi matanya masih jernih. Ia memandang Excel lama sekali, seolah sedang menimbang sesuatu yang sudah lama ia simpan.

“Ambil kotak itu,” katanya pelan, menunjuk lemari di sudut kamar. “Yang paling bawah.”

Excel membuka lemari kayu warisan ayahnya. Bau cendana tua langsung memenuhi hidungnya. Di bagian paling bawah, di balik tumpukan kain, ada sebuah kotak kayu kecil seukuran dua telapak tangan. Permukaannya halus, warnanya coklat gelap, dan di sudut-sudutnya ada ukiran tipis yang hampir tidak terlihat.

Ia meletakkan kotak itu di pangkuan ibunya.

Ibunya tidak langsung membukanya. Ia menutup mata sebentar, menarik napas, lalu berkata, “Ini peninggalan ayahmu. Aku tidak pernah menyentuh isinya. Ayahmu berpesan, kalau aku membukanya, aku harus benar-benar siap. Aku tidak pernah merasa siap.”

“Apa isinya, Bu?”

“Kau buka sendiri.”

Excel membuka tutup kotak itu. Di dalamnya ada kain tenun asli, dilipat rapi, warnanya pudar tetapi masih jelas motifnya. Ia membuka lipatan kain itu perlahan.

Dan di dalamnya ada sebuah kristal hitam bersisi tujuh.

Kristal itu tidak besar. Ukurannya kira-kira sepanjang jari tengah, dengan permukaan yang tampak halus tetapi tidak memantulkan cahaya. Warnanya hitam pekat, tetapi bukan hitam yang mati — ada semacam kedalaman di dalamnya, seperti melihat ke dalam air yang sangat gelap. Tujuh sisinya bertemu di satu titik, rapi, seolah dipotong oleh tangan yang tahu persis apa yang ia lakukan.

Excel tidak merasakan apa pun. Tidak ada panas. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara aneh. Ruangan itu tetap ruangan yang sama, dengan bau cendana tua dan suara jangkrik di luar jendela.

“Ayahmu bilang,” kata ibunya pelan, “benda ini bukan untuk dijual. Bukan untuk dipamerkan. Kalau ada orang yang mencarinya, jangan pernah kau serahkan. Dan kalau kau harus menyentuhnya, sentuh dengan tangan kosong, jangan pakai sarung tangan, jangan pakai kain.”

Excel menatap ibunya. “Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Ayahmu tidak pernah menjelaskan.”

Excel mengulurkan tangan. Untuk sesaat ia ragu. Tetapi rasa penasaran lebih kuat daripada rasa takut. Ia menyentuh kristal itu dengan ujung jarinya.

Kristal itu dingin. Tidak lebih dingin dari batu biasa. Tidak ada yang terjadi.

Lalu tanah mulai berguncang.

Getarannya tidak besar pada awalnya — hanya cukup untuk membuat gelas di meja bergetar dan menggoyangkan lampu di langit-langit. Tetapi getaran itu tidak berhenti. Ia tumbuh, perlahan, seperti sesuatu yang sedang bangun dari tidur panjang. Ibu Excel memegang lengan kursinya. Excel refleks menutup kotak kayu itu dan memeluknya ke dada.

Jendela bergetar. Debu halus jatuh dari langit-langit. Dari kejauhan, terdengar suara orang-orang berteriak di jalan.

Gempa itu berlangsung sekitar dua puluh detik. Dua puluh detik yang terasa jauh lebih lama. Ketika akhirnya berhenti, ruangan itu terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.

Excel menatap kotak kayu di pelukannya. Tangannya gemetar.

“Ayahmu pernah bilang,” kata ibunya pelan, “benda ini tidak boleh dipisahkan dari kainnya terlalu lama.”

Excel tidak bertanya. Ia membungkus kembali kristal itu dengan kain tenun, memasukkan kain ke dalam kotak, menutup tutupnya, dan menyimpan kotak itu di bagian paling bawah tasnya. Tangannya masih gemetar ketika ia mengikat tali tasnya.

Di luar, orang-orang mulai berkumpul di jalan. Seorang tetangga berteriak menanyakan apakah semua baik-baik saja. Seorang anak menangis. Seekor anjing menggonggong tanpa henti.

Excel duduk kembali di samping ibunya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu apakah gempa itu kebetulan. Ia tidak tahu apakah benda yang baru saja ia sentuh ada hubungannya dengan getaran yang mengguncang seluruh Nir.

Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa dunia tempat ia tinggal jauh lebih besar dan jauh lebih asing daripada yang ia bayangkan.

Dan ia belum tahu bahwa malam itu hanyalah awal.