Bagian IV — Kolektor dari Libertha

Bab 20 — Abu di Lantai

Sampel gratis · ZTRATAX Buku I

Ruang kerja kolektor itu lebih besar dari rumah masa kecil Excel di Nir. Dinding-dindingnya dilapisi panel kayu gelap, dan di salah satu sudut ada rak berisi benda-benda yang tidak Excel kenali. Lampu di ruangan itu tidak menyala terang — hanya cukup untuk melihat wajah orang yang sedang berbicara. Tirai jendela ditutup rapat. Tidak ada kamera. Tidak ada pelayan. Tidak ada resepsionis yang mencatat kedatangan.

Kolektor itu duduk di balik meja besar. Usianya sekitar tujuh puluh tahun. Rambutnya putih seluruhnya, tetapi matanya masih tajam. Ia tidak menyapa dengan ramah. Ia hanya memandang Excel dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu berkata, “Kau bawa bendanya?”

Excel mengangguk. Ia meletakkan tasnya di kursi, tetapi belum membuka apa pun. “Saya ingin tahu dulu, Pak. Kenapa benda ini begitu penting?”

Kolektor itu tersenyum tipis. “Kau duduk dulu.”

Excel duduk. Kolektor itu lalu menjelaskan banyak hal — tentang kristal-kristal yang tersebar di berbagai tempat, tentang orang-orang yang menyimpannya, tentang mereka yang mencarinya. Ia berbicara dengan tenang, hampir seperti sedang memberi kuliah. Tetapi ia tidak menjelaskan asal-usul kristal hitam. Ia hanya menyebut bahwa benda itu “lebih tua dari nama-nama yang kita pakai untuk menyebutnya.”

“Aku sudah lama mencari benda itu,” kata kolektor itu. “Bukan untuk memakainya. Untuk menyimpannya. Supaya tidak jatuh ke tangan yang salah.”

“Siapa yang salah?” tanya Excel.

Kolektor itu tidak menjawab. Ia membuka laci meja, mengeluarkan dua lembar dokumen, dan meletakkannya di atas meja. “Ini dua nama. Dua orang yang menyimpan kristal lain. Kalau kau memang ingin tahu, ini tempat untuk mulai mencari. Yang satu di Herbe. Yang satu di Niobi.”

Excel membaca dokumen itu. Nama-nama itu tidak ia kenal. Tetapi ada sesuatu dalam cara kolektor menyebut kata “Herbe” yang membuat tengkuknya terasa dingin.

“Sekarang,” kata kolektor itu, “buka kotaknya.”

Excel ragu. Ia memikirkan pesan ibunya. Jangan pernah kau serahkan. Tetapi ia tidak akan menyerahkan. Ia hanya akan menunjukkan. Ia mengeluarkan kotak kayu dari dasar tasnya dan meletakkannya di atas meja. Kolektor itu menatap kotak itu lama sekali, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh Excel.

Excel membuka tutupnya. Ia membuka lipatan kain tenun perlahan. Kristal hitam bersisi tujuh itu muncul di bawah cahaya lampu yang redup.

Untuk sesaat, tidak ada yang terjadi.

Lalu kolektor itu mengulurkan tangan dan meraih kristal itu.

Excel ingin berteriak, tetapi terlalu lambat.

Jari-jari kolektor itu menyentuh permukaan kristal. Untuk satu detik, wajahnya berubah — bukan wajah ketakutan, bukan wajah penasaran, melainkan wajah orang yang baru saja menyadari sesuatu yang sangat salah. Lalu tangan itu memanas. Bukan hangat. Panas. Panas yang tidak wajar, panas yang membuat kulit di sekitar jari-jarinya memutih lalu menghitam dalam hitungan detik.

Kolektor itu membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Dalam beberapa detik, tubuhnya hancur menjadi abu.

Tidak ada ledakan. Tidak ada kobaran api. Tidak ada cahaya ajaib yang memenuhi ruangan. Hanya abu — abu halus berwarna kelabu yang jatuh ke lantai, ke kursi, ke meja. Pakaiannya masih utuh, jatuh ke lantai seperti kain yang dilepas. Kacamata bulatnya tergelincir, tidak pecah.

Dan kristal hitam itu masih di tempatnya, di atas meja, tidak berubah.

Excel duduk membeku. Tangannya gemetar. Jantungnya berdebar begitu keras sampai ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Ia ingin berdiri, tetapi kakinya tidak mau bergerak. Ia ingin menutup mulut, tetapi ia tidak sadar bahwa mulutnya sudah terbuka.

Beberapa saat kemudian — entah berapa lama, ia tidak tahu — ia mengulurkan tangan dan menyentuh kristal itu untuk kedua kalinya.

Tidak ada yang terjadi.

Kristal itu dingin, seperti batu biasa. Seperti tidak pernah membunuh siapa pun.

Excel menarik tangannya cepat-cepat. Ia membungkus kristal itu kembali dengan kain tenun, memasukkan kain ke dalam kotak, menutup tutupnya, dan menyimpan kotak itu di dasar tasnya. Tangannya masih gemetar ketika ia meraih dua dokumen di atas meja — dokumen tentang Herbe dan Niobi — dan memasukkannya ke dalam tas.

Ia berdiri. Ia melihat abu di lantai, pakaian di kursi, kacamata bulat yang tergelincir. Ia membuka pintu ruang kerja perlahan. Lorong di luar sunyi. Tidak ada staf. Tidak ada suara. Semua orang masih percaya bahwa kolektor itu sedang berada di luar Imperio.

Excel berjalan menyusuri jalur pribadi yang tidak tercatat. Ia tidak berhenti. Ia tidak menoleh. Ia hanya berjalan, selangkah demi selangkah, sampai ia keluar ke jalan yang ramai, ke udara malam Libertha yang dingin dan berbau asap kendaraan, seolah tidak ada yang terjadi.

Di dalam tasnya, kristal hitam itu tetap di tempatnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Excel memahami bahwa benda yang ia bawa bukan sekadar warisan keluarga.