Bagian I — Warisan dari Nir

Bab 1 — Pedagang dari Gilbercity

Sampel gratis · ZTRATAX Buku I

Pagi di Gilbercity selalu dimulai dengan suara yang sama: gerobak besi melewati jalan berbatu, lalu pedagang-pedagang kecil berebut tempat di bawah tenda-tenda biru yang mulai memudar. Excel sudah berdiri di balik meja kayunya sebelum matahari benar-benar naik. Ia menata dagangannya dengan urutan yang sama setiap hari — sabun batangan di kiri, lilin di tengah, benang dan jarum di kanan, dan di belakang sekali, barang-barang kecil yang tidak selalu laku: gulungan tali, korek api, kaleng kecil berisi baut.

Ia bukan pedagang besar. Ia bukan siapa-siapa.

Kalau ada orang bertanya tentang hidupnya, Excel biasanya hanya tersenyum dan menjawab bahwa ia menjual barang kebutuhan sehari-hari. Itu sudah cukup. Ia tidak merasa perlu menjelaskan bahwa ia pernah duduk di ruang kuliah, mencatat, berdebat, dan kemudian berhenti karena uang habis. Ia juga tidak perlu menjelaskan bahwa ayahnya dulu berdagang barang antik dan kerajinan kayu — ukiran, guci tua, potongan kayu cendana yang baunya memenuhi seluruh rumah. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan sejak itu, kata “barang antik” membuat tengkuk Excel terasa dingin.

Hari itu, seorang perempuan tua datang ke mejanya dan menawar sabun dengan suara pelan. Excel menurunkan harga sedikit, karena ia tahu perempuan itu tinggal sendiri di gang sebelah. Perempuan itu membayar dengan koin yang dihitung satu per satu, lalu pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Excel tidak keberatan. Ia sudah lama belajar bahwa berdagang di Gilbercity bukan soal untung besar, tetapi soal bertahan.

Menjelang siang, ia duduk di bangku kayu di belakang meja dan membuka bekalnya — nasi, ikan asin kecil, dan beberapa potong sayur. Ia makan sambil melihat orang lewat. Ada anak-anak sekolah, ada pegawai kantor yang berjalan cepat, ada pengemis yang duduk di tikar kardus di seberang jalan. Kota ini tidak pernah benar-benar berhenti, tetapi juga tidak pernah benar-benar bergerak. Gilbercity adalah kota yang membuat orang merasa sibuk tanpa merasa maju.

Excel pernah berpikir untuk pergi. Ia pernah membayangkan dirinya berdagang di kota lain, atau bekerja di kapal, atau mencoba peruntungan di Imperio. Tetapi setiap kali pikiran itu datang, ia selalu ingat ibunya di Nir — kampung halaman kecil di seberang laut, tempat ia dilahirkan, tempat ayahnya dimakamkan. Ibunya sudah lama tidak sehat. Setiap kali Excel menelepon, suara ibunya selalu terdengar lebih pelan dari sebelumnya.

Dan setiap kali Excel berpikir untuk pergi jauh, ia selalu ingat bahwa ia satu-satunya yang tersisa.

Sore itu, langit Gilbercity berwarna oranye pucat. Excel mulai menutup meja dagangannya, memasukkan barang-barang ke dalam peti kayu kecil, dan mengikatnya dengan tali. Ia tidak sadar bahwa di sudut jalan, seorang lelaki tua berwajah kurus berdiri agak lama, memandangnya, lalu pergi tanpa berkata apa-apa.

Excel juga tidak sadar bahwa di rumahnya, di bagian paling bawah lemari kayu warisan ayahnya, tersimpan sebuah kotak kecil yang belum pernah ia buka.

Ia pulang dengan langkah biasa. Ia menyalakan lampu, mencuci tangan, dan duduk di kursi kayu di ruang tengah. Di dinding, foto ayahnya tergantung miring sedikit. Excel selalu berniat memperbaikinya, tetapi selalu lupa.

Malam itu, ponselnya berbunyi. Nama yang muncul di layar adalah nama pamannya dari pihak ibu.

Excel mengangkatnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, suara di seberang terdengar seperti sedang menahan sesuatu.

“Excel. Kau harus pulang ke Nir.”

Di luar jendela, lampu-lampu Gilbercity masih menyala. Kota itu masih berjalan seperti biasa. Excel belum tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir ia tidur sebagai orang biasa.